Loading...

Sebelum Laga Lawan Bhayangkara FC, Madura United akui Dapat Tekanan dan Teror

Sebelum Laga Lawan Bhayangkara FC, Madura United Dapat Tekanan dan Teror

Madura United harus menelan kekalahan dilaga pemuncak Gojek Traveloka Liga 1 musim 2017 ini. Laga melawan Bhayangkara FC sangat krusial lantaran turut menentukan siapa yang bakal menjadi juara. Bhayangkara FC sukses keluar sebagai pemenang setelah tiga gol Ilja Spasojevic menjebol gawang Awan Seto, sementara Madura United hanya mampu membalas satu gol melalui Rizky.

Meski tak mempermasalahkan soal skor akhir, namun pihak Madura United cukup menyayangkan prihal non teknis yang terjadi sebelum pertandingan dimulai. Manajer Madura United Haruna Soemitro mengaku mendapat banyak tekanan.
"Ada beberapa tekanan yang kami rasakan dalam pertandingan ini. Mereka seperti menghalalkan segala cara untuk menang," papar Haruna Soemitro.
Haruna menjelaskan pertandingan kontra Bhayangkara FC sebenarnya hampir gagal lantaran secara mendadak  izin keramaian dari kepolisian dicabut dengan alasan yang tidak masuk akal.
"Tiba-tiba Polres Bangkalan mencabut rekomendasi izin terkait pertandingan tadi malam pukul 21:30 tanpa disertai alasan," katanya.
Haruna merasa dengan kejadian tersebut seolah memberikan sebuah tekanan lantaran Bhayangkara FC juga merupakan identitas klub dari pihak kepolisian. Bukan hanya itu, Haruna juga menyayangkan beberapa teror jelang pertandingan. Meski begitu, dia tetap memberikan selamat kepada Bhayangkara FC.
"Ada seseorang yang tidak perlu saya sebut namanya, ingin kami untuk mengalah. Jika kami berkomitmen, maka izin itu akan lancar,Dan, saya ucapkan selamat atas kemenangan Bhayangkara," tambahnya.
Dalam akun instagram Madura United bahkan memposting sebuah foto diruang ganti yang dipadati oleh pihak kepolisian. Entah apa maksudnya, yang pasti kerumunan kepolisian juga terjjadi di luar stadion. Padahal laga tersebut tak dihadiri oleh suporter Madura United.
Meski menang, Bhayangkara FC masih belum bisa dipastikan sebagai juara Liga 1, hal ini diungkapkan oleh wakil ketua umum PSSI, Joko Driyono. Hal ini lantaran Bhayangkara FC masih memiliki satu pertandingan akhir melawan Persija Jakarta, jika terjadi hal ekstrim bisa jadi poin The Guardian akan mengalami pengurangan.
“Semua hingga saat ini adalah klasemen sementara. Resmi jadi juara/klasemen akhir harus sampai pertandingan selesai,” ucap Jokdri seperti dikutip dari laman INDOSPORT.
“Misalnya, kejadian ekstrem di pertandingan terakhir Bhayangkara ada kasus disiplin yang berakibat hukuman kepada yang bersangkutan (pengurangan poin, diskualifikasi), maka yang diilustrasikan tadi hanyalah teoritis,Secara formal, tidak bias kita sebut (saat ini) Bhayangkara juara Liga 1,” pungkasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel